>Rahasia ”The Secret” (Ini Rahasia, Lho…) Between ‘the secret’ and Islam (in bahasa indonesia)

>Rahasia ”The Secret” (Ini Rahasia, Lho…)
By madurejo

Sejak film “The Secret” diluncurkan tahun 2006, dan disusul dengan bukunya yang berjudul sama, “The Secret” (TS) seakan menjadi topik yang fenomenal dan membangkitkan kontroversi di kalangan pembacanya. Karena itulah buku karya Rhonda Byrne ini menjadi menarik.

Rahasia yang disampaikan dalam buku TS ini sebenarnya ringkas saja, yaitu tentang hukum ketertarikan atau tarik-menarik (law of attraction). Hukum tarik-menarik ini sendiri sebenarnya sudah banyak dibicarakan oleh banyak pemikir dan penulis-penulis sebelumnya. Hukum tarik-menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Jadi, ketika kita memikirkan suatu pikiran, maka sebenarnya kita juga sedang menarik pikiran-pikiran serupa ke dalam diri kita.

Hukum tarik-menarik adalah hukum alam, sama halnya seperti hukum gravitasi. Hukum tarik-menarik adalah hukum penciptaan. Para ahli fisika kuantum mengatakan bahwa seluruh Semesta muncul dari pikiran. Anda menciptakan hidup Anda melalu pikiran-pikiran Anda dan hukum tarik-menarik. Maka, hukum tarik-menarik memberikan apa yang Anda pikirkan. Begitulah penulisnya antara lain menyimpulkan.

Pikiran (thoughts), adalah pelaku utama dalam rahasia hukum tarik-menarik ini. Untuk mendeskripsikan tentang pikiran, dikatakan bahwa pikiran bersifat magnetis, pikiran memiliki frekuensi. Selama Anda berpikir, pikiran-pikiran itu dikirimkan ke Semesta, dan pikiran-pikiran itu akan menarik semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang dikirimkan keluar akan kembali ke sumbernya. Dan sumber itu adalah Anda.

Maka selain pikiran Anda, Semesta (the Universe) adalah “partner” yang diperlukan untuk bekerjanya hukum tarik-menarik ini. Rahasia yang ditunjukkan dalam buku TS ini antara lain mencakup bahasan panjang tentang bagaimana rahasia kekayaan, percintaan, kesehatan, hidup Anda dan kehidupan akan bekerja berdasarkan hukum tarik-menarik.

Ada tiga tahap yang digambarkan sebagai cara untuk menggunakan rahasia ini, yaitu tahap Meminta, Percaya dan lalu Menerima. Meminta, apa yang Anda inginkan kepada Semesta. Percaya, dengan melibatkan bertindak, berbicara, berpikir seakan-akan Anda telah menerima apa yang Anda minta. Menerima, melibatkan perasaan yang Anda rasakan ketika permintaan Anda terwujud.

***

Hal yang menurut saya kemudian menjadi pangkal pro dan kontra adalah pandangan kritis kaum agamawan terhadap pemikiran Rhonda Byrne yang seakan-akan menafikan peran Tuhan dalam sistem hukum tarik-menarik ini. Setidaknya kurang dirujuk secara eksplisit. Bahkan dalam banyak bahasan terkesan rancu dalam mendudukkan hakekat Tuhan.

Tetapi tidak dipungkiri, ada terkandung pemikiran positif tentang pentingnya berdoa dan berprasangka baik dalam tahap Meminta. Perlunya sebuah keyakinan (iman), kesabaran dan penyerahan diri (tawakkal) dalam tahap Percaya. Dan pentingnya terus bersyukur untuk mencapai tahap Menerima. Adalah benar, kalau dikatakan ada hal-hal yang tidak kasat mata (gaib) yang harus dipercayai. Juga adalah benar bahwa manusia mempunyai andil dalam menentukan nasibnya sendiri.

Namun kemudian menjadi ganjalan ketika sepertinya tidak “melibatkan” Tuhan dalam sistem proses hukum tarik-menarik antara Pikiran dan Semesta. Di sisi inilah, beberapa kalangan mewanti-wanti agar pembaca “berhati-hati” dalam memahami rahasia buku TS ini.

Ijinkan saya menyampaikan pandangan dari perspektif agama saya, Islam. Dalam memahami rahasia TS, dari awal saya sudah menentukan batasan bahwa Semesta (the Universe) yang dimaksud dalam TS adalah Tuhan Semesta Alam (Allahu Robbi). Dengan demikian, maka alur cerita TS menjadi sinkron dengan keyakinan agama saya. Hal-hal selebihnya yang menjadi ilustrasi dalam TS kemudian saya anggap sebagai intermezo saja, antara lain tentang Jin dan lampu Aladin.

Apa yang diceritakan Rhonda Byrne dalam TS, secara garis besar dapat saya ungkapkan secara berbeda dalam kerangka hubungan mahluk dan khaliknya dalam perspektif agama Islam.

Meminta (tahap pertama dalam proses menggunakan rahasia dalam TS), sebagai seorang hamba akan melakukannya dengan berdoa. Doa adalah wujud permohonan dan harapan yang tulus dari seorang hamba yang tak pernah berhenti dengan keinginan-keinginan. Dalam doa pula, kita melalui proses Percaya (tahap kedua dalam TS), yaitu meyakini akan ketergantungan seorang hamba kepada Tuhan-Nya. Lalu melalui doa yang tulus tentu harus disertai dengan kesabaran dan penyerahan diri secara total (tawakkal), tanpa mengenal putus asa.

Dengan demikian maka doa melahirkan kekuatan jiwa dan hati yang bersih dari prasangka buruk (su’udzdzon) terhadap Tuhan (memasuki tahap ketiga dalam TS). Sebab Tuhan telah menjanjikan akan mengabulkan setiap doa hambanya yang saleh. Hamba yang saleh adalah hamba yang senantiasa bersyukur dan menjelmakannya dalam setiap amal perbuatan, tiada henti dalam enak dan tidak enak, dalam suka dan duka, dalam sempit maupun lapang. “Raab-Mu berkata, mintalah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan untukmu” (QS : Al-Mukminun 60).

Pada dasarnya, hukum tarik-menarik ini bukanlah “hal baru” dalam sejarah kehidupan manusia. Allah swt. menegaskan dalam salah satu Hadist Qudsi : “Aku mengikuti prasangka hambaKu dan Aku menyertainya di mana saja ia ingat Aku” (HR Bukhari Muslim). Maka jika pikiran positif tentang Aku (Allah swt) yang terus kita tumbuh-kembangkan dan yakini sehingga mengejawantah dalam setiap amal perbuatan sehari-hari, kebaikan pulalah yang akhirnya akan kembali ke dalam diri kita.

Semua proses itu terbingkai dalam landasan hati yang khusyuk, legowo dan penuh rasa sukacita, karena bebas dari prasangka buruk melainkan keyakinan dan optimisme bahwa permohonan dan harapan seorang mahluk pasti akan direspon positif oleh Sang Khalik. Tak henti-henti kita lantunkan doa sapu jagat demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Bilamana semua daya upaya, pikiran, keyakinan, optimisme dan hak-hak Tuhan tidak ditunaikan sebagaimana mestinya, maka wajar kalau kemudian Tuhan pun enggan memancarkan kembali kewajiban-Nya. Manusia sendirilah yang seharusnya me-manage dirinya sebelum berharap umpan balik dari Tuhannya. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka sendiri mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS : Ar Ro’du 11).

Ketika kita menumbuhkan pikiran positif tentang kekayaan, perniagaan (bisnis), kesehatan, hubungan antar manusia (mu’amalah), karir, kehidupan dan segala macam keinginan-keinginan (tidak hanya urusan duniawi, tetapi juga ukhrawi), dan lalu diikuti dengan amal perbuatan sesuai ajaran yang ditentukan, maka tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk mengirim balik mewujudkan semua keinginan itu kepada diri kita. Dan, itu janji-Nya. Masalahnya tinggal bagaimana kita menempatkan diri secara proporsional dalam sistem Mahluk – Khalik.

Maka, bagi saya sebagai seorang muslim, memahami rahasia hukum tarik-menarik adalah sesungguhnya memahami rahasia firman-firman Allah dalam Al-Qur’an. Kalau kemudian buku TS sukses meledak di pasar dan mendatangkan kekayaan bagi penulisnya, maka itulah karunia besar yang diberikan Allah kepada Bu Rhonda dalam menggali, memikirkan dan mengemasnya dengan sangat brillian. Bersyukurlah Bu Rhonda…. (yang ini rahasia, lho….). Kalaupun ada kontroversi di muka bumi ini karenanya, maka kewajiban kita untuk mendayagunakan akal dan pikiran kita (belajar) dengan semaksimal mungkin.

Yogyakarta, 26 Januari 2008
Yusuf Iskandar

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s